Anda Disini
Beranda > Artikel > Jangan tertipu dengan istilah “Kejayaan Ummat Islam”

Jangan tertipu dengan istilah “Kejayaan Ummat Islam”

Berhati-hatilah terhadap setiap pembicaraan tentang “kejayaan” Islam. Karena sesungguhnya istilah “kejayaan” itu pertama kali ditiup-tiupkan oleh kaum orientalis.

Mereka (orientalis) sangat paham benar bahwa umat Islam -ketika studi ini (tentang dunia timur) mulai berkembang- sedang diliputi inferior complex (perasaan rendah diri/minder).

Muslim diajak memaknai kata “kejayaan” dan dirangsang utk mengejarnya sebagaimana orang kafir memaknai dan mengejarnya, yakni dalam konteks kesejahteraan material yang bersifat hedonis (cinta dunia).

Padahal jauh-jauh hari Allah -subhaanahu wa ta’alaa- telah mengingatkan:
ู„ุง ูŠุบุฑู†ูƒ ุชู‚ู„ุจ ุงู„ุฐูŠู† ููŠ ุงู„ุจู„ุงุฏ โ—‹ ู…ุชุงุน ู‚ู„ูŠู„ ุซู… ู…ุฃูˆุงู‡ู… ุฌู‡ู†ู… ูˆ ุจุฆุณ ุงู„ู…ู‡ุงุฏโ—‹
(Janganlah kalian teperdaya melihat keleluasaan orang kafir berlalu lalang di muka bumi. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat mereka kembali adalah neraka, sebagai seburuk-buruknya tempat tinggal) (Ali Imran 196 – 197).

Sedangkan kita diperintahkan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- menjadikan dunia sebagai tempat persinggahan sementara saja.

Padahal “kejayaan” Islam yang mereka tampilkan adalah “kejayaan” era Mu’tazilah (perhatikan tahun atau abad dari beberapa fenomena yang mereka tampilkan, baik itu ilmuwannya maupun perdaban seni dan teknologinya). Yakni era di mana kaum muslimin mulai mencampuradukkan islam dengan filsafat Yunani, sufi Parsi, serta kebiasaan-kebiasaan Yahudi dan Nashara, yang justru sebenarnya itulah saat-saat terakhir kebaikan umat Islam yang sesungguhnya.

Di mana setelah itu umat Islam -yang sudah terkontaminasi sifat cinta dunia itu- mengalami pukulan demi pukulan dari musuh-musuhnya yang memang senantiasa menanti-nanti kesempatan sehingga akhirnya mengalami kekalahan di mana-mana, terpecah-belah dari sisi kekuasaan dengan hancurnya sistim khilafah -setelah sebelumnya terpecah-belah dari sisi aqidah dan manhaj-, kemudian akhirnya terjajah dan dihinakan tanpa memiliki kemampuan sedikitpun untuk kembali bangkit meraih kemuliaan.

Kemudian mulailah kaum muslimin menjadikan barat (kafir) sebagai acuan nilai, mulai dari sistim estetika, etika, sampai ke logika.

Akhirnya kaum muslimin tidak lagi bersyukur dan bangga sebagai muslim.

Mereka senantiasa di bawah bayang-bayang penilaian orang kafir, sehingga ketika ia beramal, ia senantiasa dihantui kekhawatiran dituduh kolot, tidak moderat, radikal, dsb di hadapan orang kafir.

Di dalam suasana kejiwaan semacam inilah kemudian umat Islam mengais-ngais warisan sejarahnya yang dapat membuat kepalanya tegak dan berkata, “Kami juga dahulu pernah jaya di muka bumi.” Kemudian dicomotlah era Mu’tazilah tanpa memperhatikan, sengaja atau tidak, berbagai kekufuran dari sisi aqidah pada masa itu.

Padahal jika mau diteliti lebih obyektif lagi, itulah masa akhir kejayaan dan kebaikan Islam yang sesungguhnya, yang kesemua itu disebabkan kaum muslimin sudah diidapi penyakit hedonisme.
Sedangkan jauh-jauh hari Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan:

ุฅู† ู…ู…ุง ุฃุฎุงู ุนู„ูŠูƒู… ู…ู† ุจุนุฏูŠ ู…ุง ูŠูุชุญ ุนู„ูŠูƒู… ู…ู† ุฒู‡ุฑุฉ ูˆ ุฒูŠู†ุชู‡ุง (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)
(Sesungguhnya yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah dibukakannya bagi kalian kesenangan dunia dan segala perhiasannya)

ููˆุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุงู„ูู‚ุฑ ุฃุฎุดู‰ ุนู„ูŠูƒู…. ูˆู„ูƒู†ูŠ ุฃุฎุดู‰ ุงู† ุชุจุณุท ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุฏู†ูŠุง ูƒู…ุง ุจุณุทุช ุนู„ูŠ ู…ู† ูƒุงู† ู‚ุจู„ูƒู… ุŒ ูุชู†ุงูุณูˆู‡ุง ูƒู…ุง ุชู†ุงูุณูˆู‡ุงุŒ ูˆุชู‡ู„ูƒูƒู… ูƒู…ุง ุงู‡ู„ูƒุชู‡ู… (ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)
(Demi Allah, Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi yang aku takutkan atas kalian adalah dibukakannya pintu-pintu dunia kepada kalian sebagaimana dibukakannya itu bagi kaum sebelum kalian (Yahudi dan Nashara), lalu kalian berlomba-lomba di dalamnya sebagaimna mereka berlomba-lomba, kemudian kalian dihancurkan sebagaimana mereka juga pernah dihancurkan (dgn cara tersebut).

Jadi cara yang benar melihat permasalahan ini adalah dengan menggunakan kata “baik”, bukan “kejayaan”.
Sebab, apalah artinya kejayaan material sebagaimana yang digambarkan di atas kalau aqidahnya rusak serta amalannya tidak diterima dan diridhoi Allah.

Oleh karenanya, Imam Malik -rahimahullahu ta’ala- juga mengatakan dengan istilah “baik” yang tentunya lebih tepat dan meliputi;

ู„ู† ูŠุตู„ุญ ุฃุฎุฑ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ุฉ ุฅู„ุง ุจู…ุง ุตู„ุญ ุจู‡ ุฃูˆู„ู‡ุง
(Ummat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan cara bagaimana umat pertama ini memperbaikinya)

Kesimpulannya: Jangan tertipu dengan “kejayaan” masa lalu umat Islam yang diceritakan oleh orientalis.

Ditulis oleh : Ust. Zainal Abidin (Mudir Rumah Belajar Ibnu Abbas Depok)
www.rumahbelajaribnuabbas.com

Top