Anda berada disini
Beranda > Aqidah > Larangan Menyembelih Kepada Selain Allah Ta’ala

Larangan Menyembelih Kepada Selain Allah Ta’ala

Larangan Menyembelih Kepada Selain Allah Ta’ala

الحمد لله, والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له،
وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وبعد :

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhaanahu wa Ta’ala,
Allah ‘Azza Wajalla berfirman di dalam kitabNya yang mulia:
قُلْ إِنَّ صَلََتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) 162 ( لََ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ
) الْمُسْلِمِينَ ) 163

Artinya: “Katakanlah Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah, Robb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah Ta’ala)”.
(QS.Al-An’am: 162-163)

Perkataan “Qul (Katakanlah …)” ini merupakan perintah dari Allah Ta’ala kepada NabiNya
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam untuk memberitahukan kepada manusia seluruhnya dan
bukan hanya kepada manusia yang ada di jaman diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam saja atau kepada manusia yang ada di jazirah Arab saja, namun perintah ini adalah
kepada seluruh manusia yang ada di seluruh dunia sampai datangnya hari Kiamat.
Kemudian dilanjutkan dengan perkataan Allah Ta’ala “inna sholatii (sesungguhnya sholatku…)”

Sholat secara syariat adalah suatu bentuk ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan
salam yang meliputi ibadah hati, perkataan dan amalan badan. Sholat yang meliputi ibadah hati
berupa menghadirkan rasa khusu’, takut dan menghadapkan hati, pikiran dan seluruh rasa kepada
Allah Ta’ala semata. Sholat yang meliputi ibadah lisan berupa melafadzkan takbir, tahmid,
membaca Alqur’an dan bermunajat kepada Allah Ta’ala dan sholat yang meliputi ibadah anggota
badan adalah dengan berdiri, ruku’, sujud, tasyahud dan sebagainya dari bentuk-bentuk gerakan
sholat yang lain.

Sholat adalah ibadah yang agung yang mengumpulkan atasnya bentuk-bentuk ibadah yang tidak
ada dalam ibadah yang lain. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menjadikan sholat ini sebagai tiang
agama Islam dan rukun kedua dari rukun-rukun Islam.

Allah Ta’ala kemudian mengatakan “wanusukii (dan sembelihanku…)”
Makna sembelihan dalam ayat ini adalah apa saja yang disembelih dari hewan ternak dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan beribadah atasnya, seperti sembelihan yang dilakukan
dalam ibadah haji tamattu’, aqiqah, qurban dan ibadah-ibadah yang lain, seluruhnya disebut
dengan sembelihan karena hewan tersebut disembelih dalam rangka ibadah kepada Allah Ta’ala.

Ibadah menyembelih ini sudah ada sejak jaman jahiliyah dahulu, yakni kaum musyirikin mereka menyembelih untuk berhala-berhala mereka, seperti untuk jin (yang dalam istilah sekarang adalah sesajen atau tumbal), untuk bintang-bintang dan untuk apa saja selain Allah Ta’ala.
Oleh karena itu Allah Ta’ala melalui nabiNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjelaskan bahwa agama Islam adalah agama yang menyelisihi agama kaum musyirikin dengan ayat ini, yakni sembelihan tidak boleh diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala semata sebagaimana tidak bolehnya sholat kecuali hanya kepada Allah Ta’ala.
Digandengkannya ibadah menyembelih dan sholat dalam ayat ini adalah menunjukkan bahwa kedua bentuk ibadah ini merupakan bentuk ibadah yang agung yang tidak boleh dipersembehkan kepada selain Allah Ta’ala, dan kadang ibadah menyembelih banyak diantara manusia yang bermudah-mudahan atasnya. Sebagai contoh sebagian manusia, mereka menyembelih hewan-hewan ternak mereka seperti ayam hitam dan yang sejenisnya kepada jin berupa tumbal sebagai bentuk menuruti perintah dari seorang dukun atau “orang pintar” dengan harapan jin tersebut dapat menyembuhkan penyakit yang ada pada dirinya melalui sembelihan yang ia lakukan. Maka sesungguhnya hal ini adalah bentuk menyembelih kepada selain Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala kemudian melanjutkan: “wamahyaaya (dan hidup…)”
Makna “hidup” disini adalah apa saja dari kehidupan ini diperuntukkan untuk keta’atan dan ibadah kepada Allah Ta’ala.
Dan perkataanNya ‘Azza wa Jalla: “wamamaati lillahi (dan matiku hanya untuk Allah Ta’ala)…”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam memperuntukkan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala sampai datangnya ajal beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Bahkan kalau seandainya ibadah itu dapat menghilangkan nyawa beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, itupun akan dilakukan, sehingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam wafat diatas Tauhid dan tidak menyekutukan Allah Ta’ala dengan sesuatu apapun.

Allah Ta’ala melanjutkan: “Robbul ‘alamiin (Robb semesta alam)…”
Robb maknanya adalah yang Maha Menguasai dan ‘alamin adalah bentuk jamak dari alam semesta, yakni segala sesuatu dari makhluk-mahkluk yang ada selain dari Allah Ta’ala. Sehingga lafadz ini bermakna bahwa seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini yang menguasainya adalah satu yaitu Allah Ta’ala, tidak boleh ada Robb dalam bentuk mutlak melainkan hanya bagi Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Adapun bagi yang selainNya, makna robb adalah hanya dalam bentuk yang terikat dari yang dikuasainya seperti Robbul Bait (yang menguasai rumah) atau Robbus Sayyaroh (yang menguasai kendaraan).
Dan adapun berhala-berhala ataupun jin atau makhluk-makhluk yang lain, mereka semuanya tidak berhak untuk diibadahi karena mereka adalah yang dikuasai. Mereka adalah hamba dan hamba tidak berhak dan tidak boleh untuk diibadahi, walaupun hamba tersebut adalah hamba yang paling mulia. Selama yang namanya hamba, maka tidak berhak untuk diibadahi.
Kemudian di ayat selanjutnya Allah Ta’ala berfirman: “Laa syarikalahu … (tidak ada sekutu bagiNya)”
Maknanya yaitu tidak ada sekutu bagi Allah Ta’ala dalam bentuk-bentuk ibadah yang ada.
Sholat dan menyembelih adalah bentuk ibadah yang agung dan yang paling utama dari bentuk ibadah dengan anggota tubuh dan bentuk ibadah dengan harta. Ibadah Qurban adalah bentuk ibadah harta yang paling utama di hari-hari sembelihan dibandingkan ibadah harta yang lain seperti infaq, sedekah dan yang semisalnya walaupun ibadah-ibadah harta tersebut nominalnya lebih besar dari nominal harta yang dikeluarkan untuk ibadah Qurban.

Oleh karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam melaksanakan ibadah Qurban dengan menggunakan harta kita demi mendekatkan diri hanya kepada Allah Ta’ala semata.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa kedua bentuk ibadah yang agung ini haruslah dilakukan semata-mata hanya kepada Allah Ta’ala sehingga bagaimana lagi dengan bentuk-bentuk ibadah yang lain, tentu lebih utama lagi untuk dilakukan hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala melanjutkan: “wabizaalika umirtu (dan yang demikian itulah yang diperintahkan kepadaku …)”
Hal ini menunjukkan bahwa seluruh ibadah kepada Allah Ta’ala bentuknya adalah tidak boleh dilakukan kecuali dengan adanya perintah dari Allah Ta’ala.
Sehingga para ulama menyatakan dengan berdalilkan nash (redaksi) semacam ini bahwa hukum asal suatu IBADAH adalah haram kecuali dengan adanya dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang memerintahkannya. Hal ini berbeda dengan hukum asal MU’AMALAH, yakni hukum asalnya adalah boleh kecuali adanya dalil yang melarangnya.

Kemudian ayat ini ditutup dengan: “wa anaa awwalul muslimiin (dan aku adalah yang paling pertama menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala).”
Maknanya adalah yang paling pertama patuh dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala dari umat ini. Umat seluruh nabi dan rasul adalah muslim seluruhnya, karena agama para nabi dan rasul adalah mengikhlaskan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.
Dan Islam maknanya adalah menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala dengan Tauhid. Islam itu adalah Tauhid dan tidak ada Islam tanpa Tauhid. Orang muslimun adalah mereka yang bertauhid kepada Allah Ta’ala, walaupun syariat yang diturunkan kepada mereka berbeda-beda dari para Nabi dan Rasul ‘Alaihi Sholawatu wassallam.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam adalah orang yang paling pertama bersegera menunaikan perintah Allah Ta’ala, tanpa menunda-nundanya sedikitpun. Sehingga wajib bagi setiap muslim untuk tidak menunda-nunda dan bersegera apabila Allah Ta’ala memerintahkan kepada sesuatu dari perkara-perkara ketaatan dan menjadi orang yang pertama yang menunaikannya.

Kemudian di ayat yang lain dari Al-Qur’an yang mulia Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْ نَاكَ الْكَوْثَ رَ ) 1 ( فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ) 2( إِنَّ
شَانِئَكَ هُوَ الَْْبْ تَ رُ ) 3 )
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. Maka tegakkanlah sholat untuk Robbmu dan menyembelihlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 1-3)
Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada NabiNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam untuk mengikhlaskan sholat kepada Allah Ta’ala sebagaimana mengikhlaskan sembelihan hanya kepada Allah Ta’ala semata, sebagai bentuk syukur setelah diberikan nikmat Al-Kautsar. Sehingga para ulama berdalil dengan ayat ini tentang bentuk mensyukuri nikmat dari Allah Ta’ala adalah dengan melakukan keta’atan dan beramal sholeh kepada Allah Ta’ala.
Al-Kautsar maknanya adalah sebuah sungai yang ada di dalam surga yang dijanjikan untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam atau sebagian ulama yang lain menafsirkan bahwa Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Artinya berbeda, namun maknanya tetap sama yaitu kenikmatan yang agung.

Di ayat berikutnya dalam surah ini Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.”
Orang-orang kuffar jahiliyah dahulu melecehkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dengan mengatakan bahwa beliau Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam akan terputus dengan tidak memiliki harta & tidak memiliki keturunan dan apabila meninggal maka akan berakhir penyebutannya, menjuluki beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dengan seorang penyair yang akan mereka tunggu kecelakaan yang akan menimpanya dan yang sebagainya, sehingga Allah Subahanahu wa Ta’ala-pun menurunkan ayat ini.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bukanlah yang terputus, penyebutannya, amalan dan dakwahnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam akan senantiasa berlanjut sampai datangnya hari Kiamat. Dan Allahu Akbar… ini adalah benar. Saat sekarang ini, dimana kedudukan dari pembesar kaum Quraisy musyirikin seperti Abu Jahal dan Abu Lahab??
Adapun Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam senantiasa disebut dengan kebaikan, keutamaan dan dakwahnya di sepanjang zaman. Ketika berbagai mazhab atau pemahaman sesat yang lain muncul, seketika itu pulalah cepat gugurnya. Walau pengaruhnya kuat pada sebagian keadaan, namun hanyalah sesaat dan sebentar. Sedangkan agama Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam adalah sesuatu yang terus berkelanjutan dan dibersihkan ketika ada yang ingin merusak dan mengotori ajaran ini, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
مََّ ني ميَِ هِثَعِبُي اَيِذَهَي منَْي ىِلِع سَِِأَي لَُِّي دَْ نََِي نٍََِِي نَِْي هُدِدَاُي اِيِد اَه يَِِد
Artinya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan membangunkan bagi umat ini pada setiap penghujung abad, orang yang akan membaharui (membersihkan) kembali agama mereka”
HR Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599)

Maka inti dari ayat-ayat yang disebutkan diatas yaitu Allah Ta’ala menggandengkan dua bentuk ibadah dalam ayat ini menunjukkan bahwa ibadah SHOLAT dan MENYEMBELIH ini tidaklah diperbolehkan diperuntukkan kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan begitu juga dengan ibadah-ibadah yang lain.
والحمد لله رب العالمين، وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وأصحابه أجمعين

Buletin ini ditulis dengan menyadur pembahasan kitab: I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid As-syaikh Muhammad bi Abdul Wahab Rahimahullahu Ta’ala oleh As-Syaikh Sholeh Fauzan bi ‘Abdillah Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah Ta’ala yang disampaikan di kajian rutin di Masjid Ibnu Abbas – Duri, pada Kamis malam tanggal 15 Dzul Qa’adah 1437 H / 18 Agustus 2016 oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Rizqy Hafidzahullahu Ta’ala dan disadur oleh Abu Yusuf Cipto.
Diterbitkan oleh : Ma’had Ta’zhim As-Sunnah – Duri, Jl. Ibnu Abbas / Pipa Air Bersih Km 4,3 – Duri, Riau. Penasehat : Ustadz Abu Mundzir Dzul-Akmal as Salafiy, Lc. Pimpinan Ma’had Ta’zhim As-Sunnah, Jalan Rimbo Panjang Km.19 Pekanbaru Redaktur: Ustadz Abu Muhammad Rizqy Buletin Infaq / Info Ta’lim: Abu Khuzaimah Anshori (0821 7311 0551) Jagalah Buletin ini dengan baik, di dalamnya terdapat ‘ilmu yang bermanfaat untuk kita semua.


PDF: 01-1437. Larangan Menyembelih Kepada Selain Allah Ta ala-1

Top
Shares