Anda berada disini
Beranda > Info > Sekolah atau Lingkungan Belajar?

Sekolah atau Lingkungan Belajar?


Abu Khaulah Zainal Abidin

Kalaulah tujuan pendidikan itu adalah agar manusia tahu untuk apa ia hadir di dunia, kalaulah tujuannya untuk melahirkan generasi yang lebih baik, kalaulah bukan semata untuk meraih kebaikan tetapi juga demi menghindari keburukan, maka bukan saatnya lagi sekarang berharap (-terlalu banyak-) kepada model sekolahan. Sekolah dewasa ini,  ibarat orang,  sudah pikun, paling sedikit linglung. Jangankan mempengaruhi orang, menyesuaikan diri saja sudah sulit. Dan layaknya orang pikun, ya  tidak tahu mau buat apa. Bisanya hanya latah. Lain yang ditanyakan, lain yang dijawab. Itupun tergagap-gagap.

Lantas apa itu Lingkungan Belajar? Lingkungan belajar adalah lingkungan yang denyut nadinya kegiatan belajar. Dia tidak sama dengan sekolah. Lingkungan ini dibangun bukan hanya agar guru mudah mengajar, tetapi juga agar murid mudah belajar. Para guru bukan sama-sama mengajar, tetapi mengajar bersama-sama. Yang murid –mulai anak-anak sampai remaja, bahkan orangtua- bukan sama-sama belajar, tetapi belajar bersama-sama. Di lingkungan ini hampir tak ada dikotomi rumah-sekolah.  Rumah ibarat sekolah, begitu pula sebaliknya. Orangtua ibarat guru, begitu sebaliknya. Lingkungan yang sangat potensial memenuhi apa yang tak lagi bisa kita harapkan dari model sekolahan.

 

Ada apa dengan sekolah?

Sekolah dewasa ini tidak se-Pede sekolah jaman dulu, gugup menghadapi murid yang berbeda dengan jenis murid ketika pertama kali model ini diciptakan.  Yang dihadapinya sekarang adalah murid-murid yang hidup nyaris tanpa kendala ruang dan waktu, di dunia yang tak kenal istirahat dan tak pernah tidur. Terlalu banyak yang telah mencuri perhatian mereka dan juga menyusup ke dalam pikiran mereka, suka maupun terpaksa. Bagaimana tidak? Mereka adalah generasi multikultural yang tersesat di persimpangan jalan bebas hambatan yang tak lagi punya rambu-rambu, tenggelam di tengah arus informasi yang tak lagi punya kendali. Sementara sekolah (-saya tidak membicarakan sistim klasikal atau kurikulumnya-) nyaris tidak mengalami perubahan berarti dari sejak berdirinya, 350 tahun yang lalu.

Bisakah kini sekolah memaksa murid memakai “kacamata kuda” atau menyumpal telinga mereka dengan kapas? Bisakah semua perkembangan zaman ini hanya dihadapi dengan sekedar merevisi peraturan ini dan itu, himbauan ke sana kemari, bahkan dengan membongkar kurikulum? Apa jawaban sekolah melihat orangtua murid menangisi anaknya yang tewas sia-sia – dan ini bukan satu dua kali terjadi, bahkan sangat mungkin bakal lebih sering- akibat kebrutalan perang antar sekolah? Siapa yang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan murid di sepanjang perjalanan pulang pergi antara rumah dengan sekolah?

Sekolah dewasa ini tidak se-Pede sekolah jaman dulu, gamang menghadapi  tata ruang yang berbeda dengan ketika pertama kali model ini diciptakan. Ia dapati dirinya sekarang terkepung di tengah kota yang seperti tak lagi mengenal siang dan malam. Ia yang dahulu sengaja dijauhkan dari pasar, sekarang dipaksa bersanding. Yang dahulu cukup memanfaatkan sisi kanan kiri gedung untuk menyandarkan sepeda, sekarang harus menyiapkan lahan parkir yang sama luasnya dengan bangunan sekolah. Bagaimana tidak?  Kalau mau bertahan hidup, sekolah harus tegak sama megahnya dengan mall, gegap-gempita, dan menyedot banyak orang!

Bisakah kini sekolah menghindari kebisingan, memaksa kendaraan menjauh atau melintas dengan sopan di hadapannya? Apa jawaban sekolah melihat kemacetan lalu lintas, terutama di jalan-jalan yang melintasi mereka? Masih optimal kah waktu belajar murid kalau separuhnya telah disita oleh jarak tempuh rumah–sekolah, kalau untuk sampai di sekolah harus dengan kelelahan fisik dan mental, apalagi untuk tiba kembali di rumah? Dalam posisi dan kondisi semacam ini, mampukah sekolah dengan jujur dan lantang menjawab isu-isu;  pola hidup sehat, pencemaran lingkungan, hemat energi? Mampukah sekolah menjawab masalah demografi dan transportasi?

Sekolah dewasa ini tidak se-Pede sekolah jaman dulu, salah tingkah dengan penampilan serta dandanannya sendiri yang tidak sesuai dengan watak yang seharusnya. Terperangkap di dalam gaya hidup hedonis yang tak mampu ia hindari.  Membiarkan dirinya menjadi komoditi dan tak berdaya mengatasi penyakit “komersil” yang menggerogoti tubuhnya. Akhirnya ia memang  semakin besar dan canggih hanya secara fisik, namun semakin kropos dan lemah secara psikis. Penglihatannya terhadap murid mengabur, pelukannya semakin mengendur, pengawasannya semakin melonggar, dan penilaiannya semakin permisif. Bagaimana tidak? Murid begitu banyak, sekolah tidak tahu persis dari keluarga macam apa mereka berasal. Guru tak mengenal ortu murid, begitu pula sebaliknya.

Bisakah kini sekolah bergandeng tangan dengan rumah dan merangkul murid bagai anak sendiri? Bisakah sekolah tetap menyambut ortu sebagai mitra, bukan sebagai konsumen? Mengapa sekolah bungkam menghadapi kasus-kasus moral -bahkan yang terjadi di lingkungannya-; soal ujian yang harus dikawal polisi, misalnya?  Dalam kondisi semacam ini, beranikah sekolah berdiri di barisan terdepan di dalam gerakan-gerakan moral?  Kalau tidak, pendidikan seperti apa yang masih bisa kita harapkan darinya?

Bagaimana dengan Lingkungan Belajar?

Namanya juga lingkungan belajar, tidak segagah dan semegah sekolah.  Ruang belajarnya di teras-teras rumah guru, masjid, bisa juga di balai desa, atau kantor-kantor RT. Tak perlu gedung khusus sehingga harus menggaji Satpam dan tukang sapu. Muridnya tak sebanyak yang di sekolah. Dan mereka datang dari lingkungan di sekitar tempatnya belajar.

Begitu dekatnya jarak rumah dengan tempat belajar memungkinkan guru dan murid tak perlu mengeluarkan ongkos untuk sampai di tempat belajar mengajar. Tak ada kemacetan lalu lintas, tak ada kebisingan klakson, dan tak ada polusi, bahkan tak perlu ada polisi!  Pola hidup mereka menjadi lebih sehat dan hemat. Mereka juga bisa belajar “fullday” secara natural (-mengikuti bioritmik-) tanpa mengabaikan waktu istirahat siang. Juga bisa bulak-balik ke tempat belajar 3 kali sehari (-seperti makan atau minum obat-), tanpa menyita waktu dan tenaga serta kelelahan fisik dan mental. Waktu belajar mereka pun menjadi lebih optimal.

Begitu dekatnya jarak rumah dengan tempat belajar  memungkinkan murid lebih terpantau. Mereka berlalu lalang di lingkungannya seperti murid sekolah berlalu lalang di koridor antara ruang-ruang kelas dengan kantor guru. Tingkah laku mereka diawasi tetangga yang siap menegur dan menasihati jika ketahuan bolos atau berbuat tak pantas. Sangat mungkin bagi mereka untuk diikat dengan berbagai kegiatan bersama; sholat jama’ah, pengajian, pertemuan rutin, kerja bakti lingkungan. Dan ini merupakan terapi manjur untuk menyembuhkan penyakit individualisme dan egoisme di tengah masyarakat. Hampir sehari penuh berkumpul bersama guru dan di tengah-tengah orang yang mereka kenal akan ikut membantu menghalangi kemungkinan prilaku menyimpang.

Begitu dekatnya jarak rumah dengan tempat belajar  memungkinkan mereka saling sangat mengenal satu sama lain. Pendidikan menjadi lebih efektif karena didasari empati. Guru mengenal ortu, begitu sebaliknya. Murid saling mengenal ortu masing-masing, begitu sebaliknya. Ortu dan guru berpeluang besar membangun visi dan misi pendidikan yang sama. Bukan saja karena mereka membaca “panduan” yang sama, lebih dari itu karena mereka hidup bersama. Mereka memiliki tolok ukur yang sama tentang anak-anak mereka; kenakalan atau kemalasannya, karena sama-sama menyaksikan dan merasakannya. Sangat mungkin bagi guru bisa berlaku sebagai ortu terhadap muridnya, ortu bersikap seperti guru terhadap anak dan teman-teman anaknya. Ya, hanya di dalam kondisi seperti inilah, guru dan ortu bisa secara optimal menghayati sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– :

(إنما أنا لكم بمنزلة الوالد أعلمكم  (رواه أحمد و أبو داود

(“Kedudukanku bagi kalian tidak lain bagai orangtua yang mengajarkan kalian.”: HR Ahmad/Abu Dawud)

Mungkinkah ini diterapkan di selain Lingkungan Belajar?

 

Dari Mana Kita Mulai?

Pertama-tama, marilah kita umpamakan sekolah itu rumah sakit, guru itu dokter, dan ilmu itu obatnya. Artinya, toh tidak semua yang sakit atau penyakit itu harus ditangani dokter atau rumah sakit. Ada yang bisa diobati sendiri, ada yang cukup ke poliklinik atau puskesmas, ada yang terpaksa harus ke rumah sakit kalau memang sudah tidak ada cara lain. Bahkan obat pun ada yang bisa diupayakan sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di rumah, ada yang harus dibeli di apotik, ada yang bebas dan ada yang harus dengan resep dokter. Begitu pula pasien, ada yang cukup Rawat Jalan dan ada yang harus Rawat Inap. Mudah, khan?

Kemudian, mulailah menangani pasien (murid) yang paling ringan sakitnya (muda usianya). Mulailah melakukan pengobatan (pelajaran) yang tidak harus oleh dokter dan yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Mulailah dengan obat-obatan yang bisa didapat di halaman atau kebun sendiri dan tak perlu membelinya di luar. Artinya, mulailah dari yang paling mungkin kita lakukan; dari tetangga terdekat, tingkat usia belajar termuda, dan pelajaran termudah. Sulit?

Tentu saja setiap permulaan itu terasa sulit, terasa berat. Energi yang harus dikeluarkan pun terasa banyak. Tetapi kita harus memulainya sebelum lebih terlambat. Sebelum masalah demografi dan transportasi semakin kusut, sebelum peleburan informasi semakin merusak sirkuit otak anak-anak kita serta merusak akhlaqnya, sebelum mereka makin bersikap masa bodoh, egois, dan individualis. Singkatnya, sebelum generasi masa depan dibuat gila oleh mesin peradaban dan teknologi. Jika tidak, jangan-jangan impian akan lahirnya generasi yang lebih baik tak akan pernah terwujud, terhadang situasi yang selama ini tidak pernah kita perhitungkan.

Sumber :  https://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com

Top
Shares